<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7608355270437160252</id><updated>2011-09-14T02:16:21.768-07:00</updated><title type='text'>Kisah Nyata</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://mgdss.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7608355270437160252/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mgdss.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Melisa Gadis Senyum Sambal</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14517241313006403789</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>2</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7608355270437160252.post-7611440855869786993</id><published>2011-09-14T01:55:00.001-07:00</published><updated>2011-09-14T01:55:25.970-07:00</updated><title type='text'>Melisa : Gadis Dengan Senyum Sambal Part 2</title><content type='html'>&lt;h6 class="uiStreamMessage" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:1}" style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;Perlahan-lahan   Bis ku berjalan menjauh dari  semua tempat yang pernah memberikan  kesan kepadaku. Kami menumpang bis Karona tujuan Terminal Rajabasa,  salah satu terminal terbesar di Propinsi Lampung, Terminal yang sangat  di takuti karena kerawanannya. Kondektur bis ini adalah seorang Jawa  yang menggunakan logat lampung,   “ Basa-basa-basa…! Begitu dia  berteriak ketika melewati segerombolan orang di pinggir jalan.  Aku  masih terdiam dan tak memperhatikan apapun, pandangan ku tertuju ke  Sebuah bangunan sekolah, ketika bis ini melewatinya. Yah… sekolah  Menengah Pertamaku, terlintas bayangan-bayangan teman-teman ku. Amir  mahdum dengan senyumnya yang manis, seorang playboy cap kadal dikelas,  hampir seluruh siswa perempuan jatuh cinta padanya, nasibnya lebih baik  dari pada aku. Gunawan, temanku yang polos dan mempunyai penyakit aneh  yang tidak pernah kami mengerti sampai saat ini, Erik Maramos anak  seorang penjual emas di kotaku, penampilannya yang rapi dengan ciri  khasnya menggunakan Jam G-Shock berukuran besar, jam tangan favorit kami  pada saat itu, dan Maryono, seorang anak blantek (Penjual) sapi di  kampungku, berperawakan kecil dengan rambut keriting dan giginya  terlihat kuning bila dia tersenyum, dan dia adalah temanku yang jarang  sekali tersenyum dikelas, entah mengapa.   Ku ucapkan pesan lirih dalam  hatiku untuk Melisa ”Selamat Jalan Melisa, Sekarang kamu kelas II,  jadilah yang terbaik dikelas, ku yakin kelak kita akan bertemu kembali”.   Tak terasa air mataku menetes, jatuh melewati kerutan tipis di pipiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lamunanku terhenti ketika kami harus berganti bis lain, bis jurusan  pelabuhan Bakauheni, aku masih belum tau kemana arah tujuanku yang  sebernarnya, yang ku tau, aku akan disekolahkan di Jakarta. Aku masih  bertanya, kenapa aku harus ke Jakarta untuk melanjutkan sekolah, harus  meninggalkan orang-orang  yang sangat ku cintai? Aku adalah seorang anak  petani Jawa miskin yang tinggal di dusun kecil, dusun Penawarjaya, nama  yang unik untuk sebuah dusun. Masa kecilku tak seindah teman-temanku  yang lain, aku harus membantu orang tua ku di ladang ketika selesai  sekolah, mencari makanan untuk 2 sapi ku, harta keluarga kami yang  tersisa serta mencari sisa-sisa panen singkong di ladang orang lain yang  aku kumpulkan dan aku jual ke pabrik Singkong, hasilnya sebagian aku  tabung dan untuk uang saku yang ku belikan nasi uduk di belakang  sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua kakakku tak tamat sekolah, karena orang tuaku  tak sanggup membiayai mereka, padahal mereka ingin sekali bersekolah dan  menuntut ilmu setinggi mungkin. Kenyataan yang sungguh tidak adil,  banyak anak-anak orang mampu yang hidup  berkecukupan, namun tak pernah  menggunakan masa sekolah mereka dengan baik. Huff… andai  kami jadi  mereka!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuaca laut hari ini cerah, tapi tak secerah isi hatiku,  Kapal Roro Menggala mulai meninggalkan dermaga, meninggalkan pulau  Sumatera, meninggalkan semuanya, tapi hatiku masih tertinggal untuk  Melisa. &lt;br /&gt;Melisa adalah anak kedua dari keluarga Keturunan suku  Lampung, orang tuanya mempunyai  Toko Obat di tengah-tengah pasar Kecil  di Unit II, sebuah tempat dimana bisnis di kota kami berjalan. Papanya  seorang pekerja keras dan mamanya adalah seorang wanita yang taat  beragama. Mereka adalah keluarga yang bahagia dan berkecukupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga Manado Yang Besar&lt;br /&gt;Matahari baru saja muncul dengan senyuman cahaya kuningnya di ufuk  timur, embun yang menempel di dedaunan perlahan menghilang, aku baru  saja bangun, setelah semalam menginap di rumah teman pak Kris di  bilangan Bekasi. Kami bersiap – siap untuk melanjutkan perjalanan. Hari  ini pertama kalinya aku melihat kota Jakarta, kota yang mewah dengan  orang-orangnya yang cantik - tampan dan putih-putih kulitnya serta makan  nasinya yang sedikit, yang sering kulihat di TV. Kami menumpang Bis  Jurusan Bekasi -  Kampung Rambutan, sepanjang perjalanan kepala ku tak  hentinya melongok keluar jendela melihat gedung-gedung tinggi yang  menjulang di angkasa, tidak seperti di Tulang Bawang, kota asalku, hanya  Jembatan Cakat bangunan yang paling mewah. Mungkin kalau acara tukul  sudah ada pada waktu itu, “ Wong Ndeso” sebutan yang cocok untuk ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berhenti didepan gerbang besi  berwarna kuning  dengan tulisan “  ASRAMA PONDOK TARUNA “ aku mulai berfikir, apakah aku akan tinggal di  asrama? Kenapa aku di kirim ke tempat ini oleh orang tuaku?, belum juga  terjawab pertanyaanku, seorang pemuda tanggung membukan pintu gerbang  untuk kami. Kami pun masuk menemui sang pemilik Asrama, Liudyawati  Posumah, begitu ibu paruh baya itu di panggil.  Beliau menyambut kami  dengan senyuman hangat, senyuman yang  jauh berbeda dengan senyum  Melisa. &lt;br /&gt;Akupun menjadi keluarga besar asrama pondok taruna dengan  penghuni lebih dari 90 orang, bisa dibayangkan, betapa banyak keluargaku  sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersambung Bagian 3 (Surat Untuk Melisa)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h6&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7608355270437160252-7611440855869786993?l=mgdss.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mgdss.blogspot.com/feeds/7611440855869786993/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mgdss.blogspot.com/2011/09/melisa-gadis-dengan-senyum-sambal-part_14.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7608355270437160252/posts/default/7611440855869786993'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7608355270437160252/posts/default/7611440855869786993'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mgdss.blogspot.com/2011/09/melisa-gadis-dengan-senyum-sambal-part_14.html' title='Melisa : Gadis Dengan Senyum Sambal Part 2'/><author><name>Melisa Gadis Senyum Sambal</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14517241313006403789</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7608355270437160252.post-8887543053526491855</id><published>2011-09-14T01:49:00.001-07:00</published><updated>2011-09-14T01:52:35.111-07:00</updated><title type='text'>Melisa : Gadis Dengan Senyum Sambal Part 1</title><content type='html'>&lt;h6 class="uiStreamMessage" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:1}" style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}" style="font-size: small;"&gt;Maret 2000&lt;br /&gt;“gubrakk…..! semua yang berada di kelas tertegun mendengar suara itu,  semua menatap seorang gadis cantik dan jutek siswa kelas 1 C, beberapa  teman tak kuasa menahan tawa melihat tingkah lakunya. Hari ini ujian  tengah semester di sekolah kami, siswa kelas satu sampai kelas tiga,  berada satu kelas bersama –sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis itu itu masih merasa  kesakitan, kakinya berbalut sepatu spotek tahun 90an menabrak kaki meja  belajar paling depan di kelas ini, setelah dia mengambil nomor Ujian di  Meja Guru, aku pun tak luput menatap dia dan sedikit tertawa kecil  melihatnya, Dia menatapku, bukan tatapan yang manis yag kudapat, malah  wajah jutek dia perlihatkan kepada ku. Dia berjalan menuju bangkunya,  tepat persis didepan ku…&lt;br /&gt;Ujian telah hampir selesai, aku masih  memandang wajahnya,sesekali mencuri pandang untuk melihatnya dan  berharap mendapat senyum manisnya, dan bisa ku tebak, masih senyum  sambal kacang yang ku terima, tak apalah mungkin dia masih merasa kesal  dengan peristiwa tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ujian pun selesai, kami sudah tak satu  kelas lagi,tapi wajah itu menggugah ku untuk lebih mengetahui siapa dia,  aku mulai mencari-cari dia, sesekali aku berpura-pura untuk lewat depan  kelasnya, hanya untuk menatap wajahnya, hmm…. Aku melihatnya, tapi  senyumnya tak berubah, senyum sambal kacang. Aku makin penasaran,  siapakah nama nya? Aku mulai hunting, tanya kepada kawan-kawanku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Namanya Melisa Ariana” Ungkap teman ku,&lt;br /&gt;Oh… nama yang cantik, secantik orangnya, bila senyum sambal kacangnya hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari demi hari berlalu, masih dengan kebiasaan ku untuk berlalu lalang  didepan kelasnya, hanya untuk memandangya, hari ini, hari yang spesial  buat ku, karena senyum sambal kacangnya telah berubah dengan senyum  manisnya ketika menatapku,sempurna dengan kecantikannya, dan aku pun  jatuh cinta yang pertama kali kepada seorang wanita. Tapi sayang tak ada  kekuatan untuk mengungkapkannya… huff… tak apalah, aku cukup senang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juni 2000&lt;br /&gt;Tak terasa sudah tiga tahun aku menuntut ilmu di sekolah menengah  pertama ini, hari ini hari perpisahan ku dengan guru-guru dan  teman-teman, juga dengan Melisa, gadis manis berambut lurus, bermuka  jutek, oh.. beratnya rasanya meninggalkan kebiasanku, yang biasanya  melewati ruang kelasnya setiap istirahat.&lt;br /&gt;Hari ini acara perpisahan  akan dilakukan, akupun berharap bisa menjumpainya pagi ini. Pukul 05.00  WIB pagi aku sudah terbangun, padahal tak biasanya aku bangun pagi,  apalagi semalam aku tidak bisa tidur karena membayangkannya akan  meninggalkan beberapa kenangan indah di sekolah itu.&lt;br /&gt;Aku harus  tampil rapi hari ini, dan berharap bisa berbicara mengungkapkan rasa  cinta padanya. Minyak rambut merk orang aring warna hijau dengan baunya  menyengat yang menjadi favoritku di tahun 90an, aku tuang kan ketelapak  tanganku, aku usap semua ke rambutku, hmm… ganteng juga aku.. seperti  ungkapan mama papaku ketika menenangkan ku ketika aku menangis.&lt;br /&gt;Aku  sudah berada disekolah pagi ini, baru beberapa teman-temanku yang hadir,  aku masih mencarinya, gadis manis bermuka jutek itu, huff…namun tak ku  temukan juga, mungkin dia belum datang, kata hati kecilku.&lt;br /&gt;Sebuah  motor bravo 90an dengan gigi 4 tak, datang dengan berboncengan seorang  gadis dengan kebaya dan gaun kuning, dan turun memasuki halaman sekolah,  aku tehenyak sesaat, hampir tak percaya, Cantik mempesona dirinya.&lt;br /&gt;Yah.. Melisa dengan gaun itu terlihat lebih cantik… oh… tambah lemah dan  tak berdaya untuk mengungkapkannya . Aku pun hanya menjadi seorang  pecundang dan pemuja rahasia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kepala sekolah berpidato  panjang lebar dan membuat beberapa orang terkantuk, beliau menutup  pidatonya “ Kalian harus menjadi manusia yang berguna bagi bangsa dan  Negara, kejarlah cita-cita kalian setinggi mungkin” Ungkap pak Surono ,  Kepala sekolah kami. Aku masih tak tertarik dengan pidato kepala sekolah  ku, aku masih memandangnya, Melisa, yang kini terlihat elegan dengan  gaun kuningnya, ketika aku memandangnya, mata kami beradu, ada getaran  yang tak biasa dalam hatiku.&lt;br /&gt;“Cepat ungkapkan sekarang, sebelum kamu  meninggalkanya” bisik hatiku. Namun bisikan hati kecilku itu tak  merubah apapun. Aku masih dalam bayang-bayang ketidakmampuanku dan rasa  itu ku nikmati sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara Perpisahan hampir selesai, aku  masih diam tak berbuat apapun, namun rasa ingin mengukapkan begitu  besar, aku mencoba memberanikan diri untuk menemuinya, aku berdiri dari  tempat ku duduk, meninggalkan hiruk pikuknya perpisahan, aku mencarinya.&lt;br /&gt;Ku cari di semua sudut sekolah, tapi tak menemukan nya, “ dimana dia “  cariku dalam hati. Akhirnya pandangan ku bertuju ke 2 sejoli di  dibelakang ruang perpustakaan , aku mencoba menghampirinya, karena aku  mengenal salah satu dari sejoli itu, Ismanto, teman akrabku, teman  sekelas ku, banyak waktu aku habiskan bersamanya. Belum juga aku  melangkah untuk menghampirinya ,badanku ku lemas dan tak menyangka,  ternyata gadis yang kucari sedang asyik ngobrol dengan Ismanto temanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merasakan tulang-tulang kaki ini sudah tidak ada lagi, hanya angin  yang menjadi tumpuan ku berdiri. Tertegun lama aku memandang mereka,  ternyata gadis itu sudah ada yang punya. Aku pun mencoba melangkah  kembali ke arena perpisahan, dengan hati yang kecewa tentunya, “ inikah  yang namanya cinta”? hmm… sakit juga rasanya, lebih dari sakit gigi  begitulah Syair Megi Z.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ke Jakarta&lt;br /&gt;Sejak hari perpisahan  itu, aku tidak bertemu dengan gadis itu lagi, Melisa dengan senyum  juteknya yang khas, aku mencoba melupakannya, walau pun susah,  bayangannya selalu ada, gadis itu telah menggores dan menorehkan rasa di  hati ku. Aku pun tak pernah tau kapan kami akan bertemu kembali  dengannya….&lt;br /&gt;Hari ini Pukul 06.00 pagi, aku dengan Pak Kris, akan  meninggalkan kota kelahiranku, Tulang Bawang, satu kota kecil di sebelah  utara Provinsi Lampung. Kota yang yang sebenarnya kaya dan mempunyai  potensi besar untuk maju, tapi hampir 50 % penduduknya hidup dalam  kemiskinan, termasuk keluarga ku.&lt;br /&gt;Tangis mamaku pecah ketika melepas  kepergianku, adik dan kakaku tak kuasa menahan airmatanya yang jatuh di  pipi hitamnya. Kami berpelukan dan saling berciuman, “ Selamat jalan  nak, semoga engkau berhasil” pesan papaku yang terakhir kalinya. Aku  menunduk, kami pun berangkat, Jakarta tujuanku. bersambung Bagian 2&lt;/span&gt;&lt;/h6&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7608355270437160252-8887543053526491855?l=mgdss.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mgdss.blogspot.com/feeds/8887543053526491855/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mgdss.blogspot.com/2011/09/melisa-gadis-dengan-senyum-sambal-part.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7608355270437160252/posts/default/8887543053526491855'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7608355270437160252/posts/default/8887543053526491855'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mgdss.blogspot.com/2011/09/melisa-gadis-dengan-senyum-sambal-part.html' title='Melisa : Gadis Dengan Senyum Sambal Part 1'/><author><name>Melisa Gadis Senyum Sambal</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14517241313006403789</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
